jaso2

Logo JASO (produk baru sudah MA2)

Pada dasarnya oli itu berfungsi melumasi mesin agar terhindar dari kerusakan yang diakibatkan pergesekan antara satu part dengan part lain, sekaligus sebagai pendingin bagi mesin motor kita. Seiiring perkembangan teknologi, produsen oli menciptakan oli yang berkualitas tinggi, yang mampu menyesuaikan dengan teknologi tersebut.

Ingat !….. oli untuk mobil berbeda dengan oli untuk motor. Oli mobil biasanya dilengkapi bahan yang termasuk kategori friction modifier. Maksudnya, sejenis aditif yang membuat pelumasan semakin lama semakin licin. Untuk motor dengan tipe kopling basah, penggunaan oli yang mengandung  bahan friction modifier, akan menyebabkan kopling slip. Oleh karena itu, antara oli motor dan mobil punya standar yang berbeda.

Oli mobil biasanya mencantumkan standar lembaga seperti ILSAC (International Legal Services Advisory Council) atau ACEA (Association of Consulting Engineers Australia) yang fokus mesin industri termasuk mobil.

Sedang untuk motor, ciri utamanya memakai standar JASO (Japan Automotive Standard Organization).

Jadi, apabila tertera tulisan JASO, misal JASO MA ataupun MB, maka itu memang rekomendasi untuk motor. Sedang yang ada tulisan ACEA, API service atau ILSAC, maka itu jelas untuk mobil.

Oli umumnya mempunya spesifikasi yang berbeda, setiap spesifikasi oli tertera di setiap kemasan yang dikenal dengan API Services (American Petrolium Institute) suatu lembaga sertifikasi pelumas internasional. Kode API Service dimulai dari SA, SB, SC, SD, SE, SF, SG, SH, SJ, SL dan yang tertinggi saat ini adalah SM.

  • SF/SG/SH – untuk jenis mesin kendaraan produksi (2000-kebawah)
  • SJ – untuk jenis mesin kendaraan produksi (2000 – 2004)
  • SL – untuk jenis mesin kendaraan produksi (2004 – 2007)
  • SM – untuk jenis mesin kendaraan produksi (2008 – keatas)

Kode “S” bermakna Spark atau mesin bensin dan huruf dibelakangnya menunjukkan urutan pengembangan pelumas. Artinya, setiap muncul kategori yang baru, sudah pasti memenuhi klasifikasi oli sebelumnya.

Untuk motor yang beredar di indonesia, gradenya cukup sampai API SG saja tak perlu sampai SJ, SL apa lagi SM. Grade SM terlampau encer, apabila digunakan untuk motor, dapat menyebabkan slip pada sistem transmisi (kopling) karena kandungan zat anti friction-nya terlampau tinggi, terkecuali oli tersebut telah bersertifikat JASO, karena dirancang tidak bikin slip kopling.

BEDA OLI SINTETIK (Synthetic), SEMI SINTETIK DAN OLI MINERAL

Oli mineral umumnya terdiri atas 90% minyak dasar (crude oil), hasil penyulingan minyak bumi, ditambah 10% campuran bahan kimia aditif untuk meningkatkan kinerjanya. Bahan kimia yang dipakai sebagai campuran biasanya detergen (pembersih), antioksidasi dan Index Viscosity Imorover (campuran peningkat kekentalan). Penggabungan unsur-unsur itu membentuk oli yang mampu melumasi mesin.

Oli sintetik, sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan-bahan aditif. Jumlahnya menentukan jenis oli sintetisnya. Oli sintetis penuh (full synthetic oil) mengandung 100% bahan aditif, yaitu minyak dasar bahan kimia yang bukan dihasilkan dari penyulingan minyak bumi.

Sedangkan oli semi sintetik dibuat dengan menggunakan minyak dasar bahan kimia dicampur oli (minyak) mineral.

Oli sintetik biasanya digunakan untuk mesin berteknologi canggih (turbo, supercharger, dohc, etc.) juga yang membutuhkan pelumasan yang lebih baik (racing) dimana celah antar part atau logam lebih kecil/sempit/presisi, dimana hanya oli sintetik yang mampu melapisi dan mengalir sempurna.

Oli sintetik tidak disarankan untuk mesin lama, dimana celah antar part biasanya sangat besar/renggang sehingga apabila menggunakan oli sintetik biasanya menjadi lebih boros karena oli ikut masuk keruang pembakaran dan ikut terbakar sehingga oli cepat habis dan knalpot berasap (ngebul).

Keunggulan oli sintetik dibandingkan oli mineral :

  • Lebih stabil pada temperatur tinggi
  • Mengontrol/Mencegah terjadinya endapan karbon pada mesin
  • Sirkulasi lebih lancar pada waktu start pagi hari/cuaca dingin
  • Melumasi dan melapisi metal lebih baik dan mencegah terjadi gesekan antar logam yang berakibat kerusakan mesin
  • Tahan terhadapan perubahan/oksidasi sehingga lebih tahan lama sehingga lebih ekonomis dan efisien.
  • Mengurangi terjadinya gesekan, meningkatkan tenaga dan mesin lebih dingin
  • Mengandung detergen yang lebih baik untuk membersihkan mesin dari kerak

Kondisi iklim di Indonesia cukup stabil, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Penggunaan oli mineral sudah cukup untuk pemakaian harian atau sesuai dengan standar yang dianjurkan oleh pabrik.

Sekarang kita kenali oli berdasarkan kekentalannya berdasarkan kode  SAE (Society of American Engineers), yang menunjukkan kekentalan oli sesuai yang ideal buat motor.

Umumnya tingkat kekentalan untuk motor, apabila dilihat dari kondisi iklim di Indonesia, performa mesin dan hasil pengujian, idealnya dapat dibagi 4 jenis yaitu :  SAE 20w50, 10w40, 15w40, atau 15w50. Kode ‘W’ yaitu Winter atau dingin (misalnya 15w50, artinya kekentalan 15 pada suhu dingin dan 50 pada suhu panas).

SAE 20w50

Oli mesin yang masih mampu dipakai sampai kondisi suhu -10 s.d -15 derajat celcius (kode 20w) dan pada suhu 150 derajat celcius dengan tingkat kekentalan tertentu.

Oli jenis ini relatif kurang efisien dalam konsumsi BBM, tetapi sangat baik dalam melindungi/perawatan mesin, terutama untuk jalan yang macet, jarak dekat, polusi dan beban berat. Pada kondisi ini dikenal dg istilah “boundary lubrication”, dimana pada kondisi tersebut, lapisan oli sangat tipis diantara celah mesin yg cenderung berpotensi terjadinya kontak antara logam dg logam.

Oli jenis ini relatif paling kecil nilai viskositas indeksnya (VI), diantara 3 jenis oli lainnya (minimal untuk oli mineral/semi sintetis 120, untuk sintetik 145).

Semakin banyak aditiv viscosity index improver, semakin sensitif oli/kurang baik untuk mesin motor, utamanya terhadap stress di gear.

VI= ukuran kemampuan suatu oli mesin dalam menjaga kestabilan kekentalan oli mesin dalam rentang suhu dingin sampai tinggi. Semakin tinggi VI semakin baik kestabilan kekentalannya. Untuk oli mobil, VI tinggi akan sangat baik dimesin. Untuk motor bisa sebaliknya.

SAE 15w50

Oli mesin yang masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin (minus) -15 s.d -20 derajat celcius (kode 15w) dan suhu 150 derajat celcius dengan tingkat kekentalan tertentu.

Jenis oli relatif sama dengan SAE 20w50. Sedikit yg membedakan adalah sedikit lebih encer dan nilai VI lebih tinggi dari 20w50. (minimal untuk oli mineral 130, untuk sintetik 150).

Semakin tinggi nilai VI, artinya adalah semakin banyak pemakaian aditif peningkat angka VI. Untuk motor hal ini sangat riskan. Aditif ini relative sensitif digunakan untuk motor yang menyatukan oli mesin dan gigi (kopling tipe basah), artinya, oli jenis ini relatif lebih mudah berubah kekentalannya dibandingkan 20w50.

SAE 10w40

Oli mesin yang masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -20 s.d -25 derajat celcius (kode 10w) dan suhu 150 derajat celcius dengan tingkat kekentalan tertentu.

Jenis Oli yang relatif paling encer diantaranya ketiga jenis oli lainnya. Oli ini relatif paling irit BBM,  tetapi kurang baik dalam perlindungan mesin. Terutama pada kondisi jalan sering macet dan beban berat (misalnya sering berboncengan).

Relatif sama dengan SAE 15w50, dalam hal pemakaian aditif peningkat angka VI (minimal untuk oli mineral 130, untuk sintetis 150).

Apakah berarti paling bagus ?

Belum tentu …! Semakin banyak kandungan aditif peningkat angka VI , semakin besar kemungkinan peluang pecahnya aditif VI-nya dan berubah kekentalannya. Ukuran perubahan kekentalan oli biasanya dipakai batasan sampai 25-30% dari kekentalan awal/oli baru.

Sangat sulit memang indikatornya, sebab hanya laboratorium yang bisa memastikan hal ini.

Untuk pemakaian oli jenis ini, disarankan untuk memperhatikan jarak pergantian oli lebih sering/awal. Kalau suara mesin sudah berbeda sedikit….. cepat ganti…!

SAE 15w40

Oli mesin yang masih mampu dipakai sampai kondisi suhu dingin -15 s.d -20 derajat celcius (kode 15w) dan suhu 150 derajat celcius dengan tingkat kekentalan tertentu .

Nilai VI (minimal untuk oli mineral 125, untuk sintetik 145). Hasil pengujian di motor sebenarnya menunjukkan oli jenis ini yg paling ideal. Oli jenis ini relatif paling stabil kekentalannya dibandingkan yg lainnya.

Masalahnya oli jens ini jarang diaplikasikan untuk motor. Biasanya jenis SAE ini, dipakai utk kendaraan jenis mesin diesel, yang membutuhkan kestabilan kekekentalan dalam jarak jauh dan kondisi ekstrim seperti pada mesin diesel.

Sebagai tambahan aditif VI adalah senyawa kimia kopolimer (rantai panjang) yang mampu beradaptasi pada suhu rendah dan tinggi tetapi, sensitif terhadap stress di gear.

REKOMENDASI

  1. Untuk motor yang beraktifitas di perkotaan (sering macet) dan sering berboncengan, dianjurkan menggunakan SAE 20w50, tetapi tidak ada salahnya coba oli dengan kekentalan sedikit lebih encer yaitu SAE 15w40 atau SAE 10w40. Kedua jenis tersebut lebih mampu bersirkulasi dengan lancar melalui celah sempit pada mesin. Ingat….! Harus lebih sering ganti oli ….!
  2. Sedangkan untuk motor lama, direkomendasikan menggunakan SAE 20w50 (multigrade) atau SAE 40 (single grade) yang memiliki kekentalan tetap, yang dapat bekerja baik pada suhu rendah maupun tinggi, dan mampu menutup celah yang telah mengalami tingkat keausan tertentu.

~Semoga Bermanfaat~

.

(F-005, 2008)

.

Note :

  • untuk motor dengan kopling tipe basah (wet clutch).
  • dari berbagai sumber.
About these ads