Ini cuma share dari seorang rider yang salut dengan kerja keras 2 orang polisi lalu lintas.

Ilustrasi :

Kronologisnya :

Disebuah pertigaan tanpa lampu pengatur lalu lintas, ada 2 orang brader polisi lalu lintas yg bertugas mengatur.

Jalan di pertigaan tersebut merupakan jalan beton yg memiliki ketinggian ± 30 cm, sehingga tidak memungkinkan kendaraan (motor especially, red.) untuk menyerobot jalur di luar jalan. 2 polisi tersebut memberlakukan jalur buka tutup. Polisi di titik B bertugas untuk memberikan tanda kepada pengendara dari setiap jalur untuk berhenti atau maju. Dan polisi satunya bertugas untuk bolak balik dari A ke C,– terimakasih brader polantas.

Disaat jalur dari kanan ke kiri ditutup, maka polisi B memberi tanda untuk pengendara dari jalur kiri ke kanan untuk maju, dan polisi yg satunya berada di titik A untuk menutup jalur dari atas dan berlari ke titik C untuk menutup jalur dari arah berlawanan,–yg terdiri dari 1 antrian mobil (jalur kanan hitam) + 1 antrian motor(jalur kanan merah). Ogut, –yg kebetulan ada diantrian motor dari  kanan ke kiri (jalur merah). merasa  kalo sistem buka tutup tersebut sangat berguna, karena lalu lintas menjadi sedikit lancar walaupun butuh ekstra kesabaran menunggu jalur dibuka.

Tetapi kemudian, ada rombongan motor (akamsi—anak kampung sini,red.) menyerobot dari jalur A, sehingga membuat jalur yg sedang dibuka (jalur B) macet 2 arah. Polisi di titik C berlari ke titik A untuk menertibkan jalur. Karena di titik C gak ada polisi,  jalur tempat ogut antri (jalur merah) banyak motor yg gak sabar dari belakang membuat jalur baru (yg tadinya 1 antrian motor menjadi 3 antrian motor),  otomatis jalur dari kiri gak bisa masuk ke jalur tersebut (jalur C). Dengan muka yg capek+kesel+sangar, tuh polisi yg tadi bolakbalik nyamperin rider yg ada di antrian 2 dan 3 dan (maaf) mukul lengan rider2 disitu pake stick light dan nyuruh maju ke antrian paling depan. (sebenarnya terjadi 2 kali tuh brader polisi bolak balik dari C ke A ke C ke A, sampe ada 3 antrian motor dijalur C).

Asumsi Ogut yg ada di antrian 1 :

Mungkin ada beberapa rider di antrian 2+3 yg berpikir “mentang2 polisi, kasar banget sih. Biasa aja dong”. Tapi di sisi lain itu polisi kan bertugas untuk ngatur jalan, dan sebelum ada antrian motor 2+3 jalur tersebut kan emang teratur.

Jadi kalo akhir2 ini ada beberapa pihak yg suka menjatuhkan pihak polisi, mungkin bisa ditanya kembali yang bersangkutan apa mereka taat peraturan ato engga. Jangan hanya bisa menghakimi tanpa bisa berkaca apa yg mereka lakukan.

Masih lebih baik mereka mendapatkan pukulan “halus” daripada mereka dikenakan tilang. Dan apabila mereka dikenakan tilang pun mereka mungkin akan menggerutu lagi dan polisi juga yang disalahkan lagi. Pukulan “halus” tersebut mungkin luapan rasa capek+kesel mereka karena ternyata pengendara2 yg ada disitu susah diatur. Jadi, sebetulnya mental rider perlu diasah lagi agar bisa tertib lalu lintas.

Akhir kata, itu cuma asumsi ogut. Mungkin kalo ada yg berbeda asumsi, bisa di share dimarih. Cuma mau tukar pikiran aja koq. Karena jangan selalu polisi yang disalahkan, mungkin ada tindakan brader yang mau gak mau bikin brader polisi bermain “kasar”.

Gak bermaksud menyindir brader2 yg kebal aturan jg koq, sekali lagi cuma mau share pengalaman yg ogut rasa para brader polisi perlu diberi apresiasi, sekaligus buka mata kalo masih banyak rider yg masih sulit untuk diatur dan taat lalu lintas. Mungkin pepatah “aturan dibuat untuk dilanggar” sudah melekat di sebagian pribadi masyarakat kita.

Respect other on the road, include polantas.

Regards,

ogut